Wacana Santri

Apakah Spesifikasi Konotasi dari Diskriminasi?

Mungkin judul di atas ada benarnya mungkin juga salah, kenapa dikatakan benar ? karena ini merujuk pada peristiwa yang menimpa anak-anak IPS ketika sekolah bekerja sama dengan KSPD dan Emercy mengadakan acara besar yaitu Lomba Orasi yang berlangsung di GOR Al-Hikmah 2.

Namun di tengah acara anak-anak IPS yang barun selesai mengaji bersama Abah Kyai berbondong-bondong masuk  tetapi malah ditolak oleh salah satu panitia , dengan alasan acara dikhususkan hanya untuk Osis MAK dan kelas IPA khusus.

Sontak pernyataan sepihak ini membuat kaum Sosialis ini kecewa dan mungkin merasa sakit hati, hingga berujung pada tindakan nekat seorang siswa menulis kejadian ini dalam blog pribadinya secara fulgar di blog sebagai pelampiasan kekesalannya terhadap panitia dan trainer acara tersebut.

Keadaan ini diperparah ketika seorang guru pendamping yang juga menjabat sebagai Waka Kesiswaan ini menyatakan bahwa anak yang absen pada hari ini maka besok akan dihukum dengan dipajang di atas pangggung. Alhasil besoknya banyak anak IPS yang mendapat hukuman karena tak hadir kemarin,padahal bukannya kemarin IPS dilarang ikut acara, kenapa mereka sekarang dihukum?

Hal ini mungkin yang menjadi dasar pembenaran judul di atas , bahwa spesifilkasi adalah bahasa halus dari diskiminasi dan menjadi dogma terhada tindak diskriminatif yang dilakukan oleh oknum di instansi pendidikan di negri ini.

Presepsi ini akan berubah ketika kita berbicara dari hati ke hati tentang keadilan. Maka ini bukan saja menyangkut ketidakadilan seaat melainkan diskriminasi yang telah membatasi dan mengekang cita-cita dan masa depanku. Itu yang terjadi pada diriku sekarang, aku adalah siswa MAK yang berkeinginan menjadi seorang Dokter, namun semua itu kandas bagai pungguk merindukan bulan kisah ini terjadi ketika ada penyuluhan dari UNNISULA, kemudian ada santri yang bertanya bagaimana syrat masuk ke kedokteran? dengan tegas staf dosen menjawab bahwa yang masuk kedokteran harus siswa dari IPA yang mempunyai nilai rata-rata 8 untuk mapel Biologi,KImia dan Fisika dan IPS pun masioh punya kesempatan.

Sedangkan untuk MAK ternyata ga bisa!! maka menara impian yang telah aku bangun selama ini ambruk begitu saja dan keinginan yang telah ku ukir diatas pasir tersapu habis oleh ombak lautan ketidakadilan ini, spesifikasi ini telah membunuh ambisi besarku,aku tak bisa melanjutkan ke fakultas yang aku inginkan..sedangkan mereka yang dari IPA dan IPS bisa dengan mudah memilih semua jurusan termasuk memilih jalan yang kebanyakan jurusan keagamaan tuju yaitu pergi ke Negeri Seribu Menara,Mesir.

Namun aku hanya bisa memilih jurusan yang sejalan dengan keagamaan dan aku tak bisa melanjutkan ke kedokteran! apakah ini adil? masikah mereka berani bilang bahwa mereka terintimidasi? itu hanya terjadi sesaat sedangkan yang menimpaku adalah mengenai masa depan bagaimana aku harus merubah impian yang telah aku bangun sejak SD? itu bukan barang mudah.sedangkan kalian mempunyai peluang yang sangat besar tanpa terhalang oleh jurusan.

Terlepas dari semua hal di atas , aku tetap mencoba berfikir bahwa ini adalah hal yang terbaik yang telah Allah beri untukku. Seperti Firman-Nya, bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untuk kita, di sisi lain kita amat membenci sesuatu padahal ia baik untuk kita. So di dunia in sebenarny kita tak berhak untuk memvonis sesuatu, melainkan kita hanya di suruh untuk selalu berusaha dan menyerahklan hasilnya pada Sang Kuasa, karena Allah tak bakal memberi apa yang kita Minta melainkan memberi apa yang kita butuhkan.

Facebook Comments

About miftah

Biasa dipanggil Miftah Wibowo. Santri asal Tegal yang pernah Ngangsu di Al Hikmah, Benda. Masih dan Selalu menjadi Santri Almarhum Abah Kyai Masruri Abdul Mughni. Sekarang Ngangsu di History and Civilization Departement, Arabic Faculty, Al Azhar university, Cairo. | Bookholic | Pecinta Kuliner | Traveler | Fotografi | Filateli | Suka Berkebun |
View all posts by miftah →

Leave a Reply

18 thoughts on “Apakah Spesifikasi Konotasi dari Diskriminasi?

  1. dokter itu macem2,
    bagaimana dengan karir sebagai Psikolog, dah dipertimbangkan?
    karena kemampuan menaklukkan kembang m2net, saya yakin bisa menjadi modal seorang psikolog handal…khukhu

  2. Ya memang bagus tapi ini masalah hati..kalo kita bekerja namun hati kita tak ada di tempat kerja melainkan ke tempat lain pasti ngga bakal bahagia..

    so urusan kembang M2net tu masalah Asmara beda kan?

  3. Hm… Jd ingat jamanku Kelas 1 Aliyah dulu… Saking banyaknya ‘sikap diskriminasi’ itu akhirnya kami menyampaikan aspirasi dengan cara “luaaaarr biasa”…. Hahahaha…. Setahu saya itu tercatat sebagai sejarah dan menjadi cambuk kemajuan Aliyah. Sy ndak bisa menceritakan secara details dikomen ini, karena takut salah arti karena sampai menyebabkan Abah Marsur Duko 🙁 . Klw miftah pengen tau lbh lanjut silahkan tanya Pak Sulkhi tentang kejadianya antara periode Aliyah tahun 1998-2001. Semoga menjadi pengingat yang baik, dan aspirasi dpt disampaikan dengan baik dan berakhir baik…. wuuuuaaah.. aq jadi nglantur …..

  4. sbenerny neh….jd MAK jg g serta merta jd kesayangan gru n slLU Dpuja2 loh…
    q dah ngerasain semua paitny direndahin loh…
    dr menang dmn2 n g dpt reward n cm dbilang:KEBETULAN N KEBERUNTUNGAN!!!!
    pdhal anak2 lain(slain MAK)dsanjung2 n dipuja2 wlo cm mnang kec doang fiuh…..
    jd yah…..diskriminaasi trjadi dmn2…

  5. iya mba inget ..tapi..Roma itu kan di italia buakn di indonesia..jadi cari yang deket aja..kaya banyak jalan menuju malaysia alias jadi TKI mab..hehehh

  6. wah kayanya mesti di tlusuri nih..boleh lah akn ana bikin tim investigasi buat tragedi 1998-2001..eit tap ane dapet info dari pak Wahid ternyata itu demo besar2 menuntut spes komputer..karena dulu anak2 sudah pafda bayar namun ga pernah ada kegiatan spes..hemmm

  7. iya tahu mas ..tapi kan semua universitas sam…syaratnya harus dari IPA atau IPS….KEAGAMAAN kayanya susah..??

  8. kalo itu mah memang dah biasa ukhti..yah pokonya kita truz positif thinking aja mungkin cara guru mengapresiasi itu beda2….

  9. tenang kawan-kawan. gak usah galau dan ribut soal diskriminasi.

    Nanti akan saya coba merintis jurusan kedokteran di Al Azhar Mesir.

    so, doakan saya jadi rektor disana.

    Semoga ini menuntaskan kecemasan akhi miftah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *