Perjalanan Miftahuna

Sebuah ironi di warung Es

Setelah PKL di karawang rasanya hati ini terasa punya keterikatan batin yang dalam baik buminya, masyarakatnya bahkan sampai suasanya yang panas terasa dirindu ketika telah tiba di Benda yang begitu dingin.

Namun selama PKL di sana ku mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, entah yang bokin seneng was-was , takut hingga bikin hati miris dan sedih.

Tapi kali ini Ana pengin cerita mengenai sisi lain Karawang yang membuatku prihatin.

kisah ini bermula ketika aku dan temanku fahis mengadakan perjalanan dari Tempuran ke cilamaya guna meeting para SC lomba, aku saat itu menjadi SC CCIAU (Cerdas Cermat Ilmu Agama dan Umum), setelah rapat selesai kita berdua sepakat untuk mengunjungi Pangkalan Gas Pertamina yang ada di sebelah selatan jalan.

Melihat sekitar pabrik membuatku kagum betapa banyaknya kekayaan indonesia, hal ini juga menyisakan pertanyaan dalam hatiku, Kenapa indinesia yang pinya SDA sebanyak itu tak pernah selangkahpun menjasi negara Maju? bahkan sekarang malah terjadi kelangkaan bensin, bagaimana ini?

karena udara sore cukup panas kami putuskan untuk mampir sejenak di warung ES untuk melepas dahaga, namun aku tersentak bercampur kaget, di warung itu ada 2 orang siswa, yang perempuan masih SMP dan yang Laki-lakinya tingkat SMA, mereka berdua dengan bangganya memperlihatkan kemesraan mereka di depanku.

Yang membuatku kaget ternyata anak SMP itu adalah anak ibu penjual Es dan sang ibu yang ada di samping mereka seakan tak punya rasa marah ketika anak perempuannya diperlakukan seperti itu! padahal lelaki itu bukan siapa-siapa, mereka melakukan hal itu layaknya suami istri dan sang ibu hanya terdiam di sampingnya tanpa melarang ataupun memperdulikan anaknya. “Ibu macam apa itu” gumanku dalam hati.

bagaimana ini ? sudah separah inikah masyarakat kita? dimana tanggung jawab orang tua dalam mendidik anaknya? aku tak tahu harus berkata apalagi. padahal kehidupan  negara akan maju apabila dibangun dari sendi  kehidupan keluarga yang menerapkan nilai luhur serta sopan santun Islam.

Generasi muda kita akan hancur ketika para orang tua tak peduli lagi terhadap anaknya, bagaimana anaknya mendapatkan pendidikan, bagaimana ia menjadi anak yang berakhlak terpuji. selain itu orang tua jangan terlalu memanjakan anak karena hal ini akan membuat anak cenderung berfoya-foya dan tak patuh terhadap orang tua.

Facebook Comments

Tagged ,

About miftah

Biasa dipanggil Miftah Wibowo. Santri asal Tegal yang pernah Ngangsu di Al Hikmah, Benda. Masih dan Selalu menjadi Santri Almarhum Abah Kyai Masruri Abdul Mughni. Sekarang Ngangsu di History and Civilization Departement, Arabic Faculty, Al Azhar university, Cairo. | Bookholic | Pecinta Kuliner | Traveler | Fotografi | Filateli | Suka Berkebun |
View all posts by miftah →

Leave a Reply

4 thoughts on “Sebuah ironi di warung Es

  1. beginilah zaman….
    saat ini bukan lagi kita yang mengendalikan zaman,, tetapi zaman yang mengendalikan kita…
    seungguh menyedihkan bukan…

  2. tetapi semua itu belum terlambat bukan…kita sebagai generasi muslim muda yang aktif harus bisa merubah itu..bersama kita bisa.!

  3. sip deh….
    tapi dari mana kita harus merubah???…
    semua itu radan sulit…
    gmn jika akhi buat tips menghadapi hal sperti ini?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *