Teguran berharga dari Abah

Sebuah renungan

Tak seperti biasanya , selasa pagi ini aku bisa bangun sendiri lebih cepat, kulihat sekeliling kamar Hasan Al-Bashry masih ada yang tidur namun sebagian telah mandi dan ada yang sudah siap berangkat. Jam dinding menunjukan pukul 04.15, segera ku raih kitab Kifayah dan buku tulis yang sengaja ku persiapkan untuk mencatat pengajian Abah Mukhlas yang ku beri judul” Untaian Mutiara”. Sungkan, mungkin kata yang tepat, ketika aku ingin membangunkan anak-anak, kenapa? karena setiap ngoprak-ngoprak hasilnya malah aku yang terlabat jamaah sehingga harus rela duduk di shaf paling belakang.

Keluar kamar, ternyata masih banyak anak yang terlelap, anehnya ada yang janggal, karena sudah jam -04.30 , bel pengigat belum juga berbunyio dan ku lihat kantor juga masih sepi. Apakah pengurus masih tidur?

Keluar komplek Aku teringat bahwa sandalku hilang, yang lebih mengenaskan ternyata sandalnya hilang di kamar, dan tak satupun anak yang mengaku? hanya rasa jengkel yang muncul jika mencoba untuk mengingatnya.

Dengan Basmallah ku lanmgkahkan kaki dengan mantagp ke masjid An-Nur, baru beberapa langkah, ternyata sahabatku Ibnu memanggilku. Ternyata sejak pukul 04.00 subuh ia sudah rapi dan termenung di depan komplek.

Kami berdua melangkah menuju masjid, tentunya denganku yang tak memakai alas apapun. Sampai di masjid, ternyata belum ada santri putra yang berangkat kecuali Ibnu dan aku. Sambil menunggu yang lain , Ibnu ke GOR untuk membangunkan yang masih tidur dan aku bergegas ke belakang untuk mengambil air wudlu.

setelah wudlu, santri putra mulai berdatangan namun masih enggan untuk masuk ke dalam karena banyaknya putri yang dudiuk din shaf depan. setelah menunggu, kami memberanikan diri memasauki masjid dengan niat Iktikaf dam melaksanakan jamaah shalat subuh.

Jamah selesai, kami yang mengaji kitab Kifayatul Akhyar langsung bergegas ke GOR. Namun, kejadian yang tak diduiga muncul, ketika Abah menanyakan sampai mana pengajiannnya, tetapi dari sekian santri putar yang berasal dari Ma’had Aly, MAU, MAK dam mualimin tak ada yang menjawab, hal ini membuat Abah bendu (marah) dan berkata: “Kalian itu bagaimana?,Masa ngaji kalian tidak tahu batasnya, sering ngaji kitab gede-gede, setelah selesai bukanya di baca ulang tapi hanya ditaruh dilemari, Kalo seperti ini lagi mending tak usah ngaji, ini masih mending kalian ngajinya sedkit tapi sering Muthola’ah (dibaca ulang) supaya tak lupa pengajian yang telah disampaikan”

Kemarahan Abah reda , setelah seorang siswi kelas 3 MAK menunjukan batas pengaiannya kepada Abah. pengajian dimulai dengan tenangdan ta’dim, pengajian kali ini menerangkan bab Jinayat atau yang biasa dikenal di Indonesia dengan hukum tindak pidana.

Sebenarnya aku sendiri tak tahu , sampaimana batasnya, karena pada pengajian sebelumnya, aku mengaji kitab Adabut Ta’limul Muta’alim akibat terlambat keluar masjid setelah Jamaah. Dari kejadian ini, secara pribadi memang itu satu hal buruk yang kini mulai menular di tengah para santri, akupun juga agak kesulitan untuk mengatur waktu, selain belajar di pondok dan sekolah, Bimbel dengan adik kelas semua itu cukp menyita waktu untuk Muthola’ah, belum lagi harus pintar menyempatkan diri untuk istirahat. kadang ketika mencoba lembur, karena itu waktu yang paling luang buat mengulang pelajaran, alih -alih ingin rajin malah mengantuk di kelas, bagaimana ini?

Terlepas dari semua alasan , hal itu sudah selayaknya menjadi kewajibanku selaku pelajar yang mesti pandai merangkai pondok dan sekolah menjadi satu. Karena Al ilmu laa yunalu duuna nashobin, ilmu itu tak bakal bisa di raih kecuali dengan jalan mau bersusah payah dan kesungguhan yang matang.

11 Comments


  1. kalo gak salah kejadian ini udah sekitar 3x pengajian yang lalu.. aku juga smpet takut… hhe….

    waktu itu sbnernya anak putri pada tau tapi ndak ada yang berani maju…. hhe… walau akhirnya ukhti fitri maju uga….

    minggu depannya juga kan abah smpet mau marah karena kitabnya ndak dteng2…… aneh ya kita tuh kurang bgt memperhatkan guru….?


  2. Emang dah sering tapi koq anehnya santri tuh ga bosen2 ngulang episode lama…


  3. bisa kubayangin gimana rasa takutnya.

    ketemu aja dah bikin keder. padahal ku bukan santri 🙂


  4. yah begitulah,,,,,
    rasa takut akan membuat kita diam seribu bahasa seperti patung,,,,


  5. dengan rasa takut itulah kita bisa mengeluarkan potensi kita yang tewrpendam…ingat the power of kepepet


  6. Selamat bergabung ya mBa…


  7. malu bertanya, sesat dijalan
    banyak bertanya?
    hehe
    semoga lebih baik ya sobat..
    salam 🙂


  8. thanks buat kunjungannya salam kenal..


  9. kl di kairo masih kyk gt gak miftah? 😀


  10. InsyaAllah, semakin berubah mba. Belajar disiplin. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *